Fiqh Muamalah

20.57



Fiqih: Ilmu tentang hukum-hukum syara yang bersifat amaliah yang diambil dari dalil-dalil terperinci.
Muamalah: Melakukan hubungan dengan orang lain.
Fiqih Muamalah: Ilmu tentang hukum-hukum syara yang mengatur hubungan antar manusia. Fiqih Muamalah Madiyah: Membahas tentang obyek muamalah.
Fiqih Muamalah Adabiyah: Membahas tentang subyek muamalah. Prinsip-Prinsip Muamalah
1.         Al ashl fi al muamalah al ibahah, illa idza ma dalla al dalil ala khilafihi (Semua bentuk muamalah diperbolehkan kecuali ada dalil yang melarangnya).
2.         An taradin minkum (Suka sama suka).
3.         La tazhlimuna wa la tuzhlamun (Tidak saling menzalimi). AKAD
Akad: Kesepakatan yang menimbulkan akibat-akibat hukum. Rukun Akad
1.         Aqid (Orang yang melakukan akad).
2.         Ma’qud ‘alaih (Obyek akad).
3.         Shighat/Perjanjian (Ijab dan qabul).
Ijab: Permyataan pertama dari orang yang berakad.
Qabul : Pernyataan kedua dari orang yang berakad setelah ijab. Syarat Akad
1.         Iniqad: Syarat yang harus ada pada akad.
2.         Sah: Syarat yang menentukan apakah akad menimbulkan akibat hukum atau tidak.
3.         Nafadz: Syarat yang menentukan kelangsungan akad.
4.         Luzum: Syarat yang menentukan mengikat atau tidaknya suatu akad. Macam-Macam Akad
Berdasarkan sah atau tidaknya:
1.         Akad Shahih : Akad yang terpenuhi rukun dan syaratnya.
·       Akad Nafidz: Akad shahih yang dapat langsung dilaksanakan.
·       Akad Lazim: Akad nafidz yang mengikat dan tidak bisa dibatalkan sepihak.
·       Akad Ghair Lazim: Akad nafidz yang tidak mengikat dan bisa dibatalkan sepihak.
·       Akad Mauquf: Akad shahih yang tidak dapat langsung dilaksanakan. (Harus mendapat persetujuan dari orang yang diwakilkan).


2.         Akad Ghair Shahih
·       Akad Fasid: Akad yang terpenuhi rukunnya namun didalamnya terdapat unsur yang dilarang fiqih muamalah. Contoh: Ada unsur gharar didalam akad tersebut, seperti menjual barang yang belum ada.
·       Akad Batil: Akad yang rukun atau syaratnya tidak terpenuhi. Menurut ada atau tidaknya kompensasi:
1.         Akad Tabarru: Akad tolong menolong (tidak ada kompensasi/pembayaran).
·       Meminjamkan harta
·       Memberikan jasa
·       Memberikan harta
2.         Akad Tijarah: Akad bisnis (ada kompensasi/pembayaran).
·       Natural Uncertainty Contract: Akad usaha yang tidak pasti akan untung atau rugi. Di dalam akad ini ada percampuran (modal dengan modal,modal dengan kerja, atau kerja dengan kerja).
·       Natural Certainty Contract: Akad jual beli yang sudah pasti jumlah.mutu,harga, dan waktu penyerahannya. Di dalam akad ini ada pertukaran (barang dengan barang, barang dengan uang, atau uang dengan uang).
ü  Akad tijarah boleh diubah menjadi akad tabarru namun akad tabarru tidak boleh diubah menjadi akad tijarah.
ü  Natural uncertainty contract jika diubah menjadi natural certainty contract menjadi riba, sedangkan natural certainty contract jika diubah menjadi natural uncertainty contract menjadi gharar.
Akad Tabarru
§  Meminjamkan harta
Ø  Akad Qardh: Meminjamkan uang tanpa imbalan (bunga/tambahan apapun). Rukun Akad Qardh
·       Muqridh: Orang yang meminjamkan uang.
·       Muqtaridh: Orang yang menerima pinjaman.
·       Ma’qud ‘Alaih (Uang)
·       Shighat
Diatur dalam QS: Al Hadid: 11
Ø  Akad Ariyah/Iarah: Meminjamkan barang tanpa imbalan. Rukun Akad Ariyah
·       Muir: Orang yang meminjamkan barang.
·       Mustair: Orang yang meminjam barang.
·       Muar: Barang yang dipinjamkan.
·       Shighat
Ø  Akad Rahn: Menggadaikan barang untuk mendapatkan pinjaman. Rukun Akad Rahn
·       Rahin: Orang yang menggadaikan barang.

·       Murtahin: Orang yang menerima gadai barang.
·       Marhun: Barang yang digadaikan.
·       Marhun Bih: Pinjaman.
·       Shighat.
Diatur dalam: QS Al Baqarah:282
§  Memberikan jasa
Ø  Akad Hawalah/Hiwalah: Memindahkan penagihan utang ke orang lain yang memiliki piutang ke orang tersebut.
Rukun Akad Hawalah
·       Muhil: Orang yang memindahkan penagihan utang.
·       Muhal: Orang yang memberikan utang.
·       Muhal Alaih: Orang yang menerima pemindahan penagihan utang.
·       Muhal Bih: Utang yang dipindahkan penagihannya.
·       Shighat
Jenis-Jenis Akad Hawalah:
·       Hawalah Al Haqq: Muhil hanya memindahkan hak penagihan piutang saja.
·       Hawalah Ad Dain: Muhil memindahkan kewajiban membayar utang.
·       Hawalah Al Muqayyadah: Muhil memindahkan pembayaran utang ke muhal alaih yang memiliki piutang terhadap muhil.
·       Hawalah Al Mutlaqah: Muhil memindahkan pembayaran utang ke muhal alaih, namun muhal alaih tidak memiliki piutang terhadap muhil.
Ø  Akad Wakalah: Suatu pihak mewakilkan suatu urusan kepada pihak lain. Rukun Akad Wakalah
·       Muwakkal/Wakil: Orang yang mewakili.
·       Muwakkil: Orang yang diwakili.
·       Muwakkal Fih: Perkara/hal yang diwakili.
·       Shighat
Diatur dalam QS Al Kahfi: 19
Ø  Akad Kafalah: Suatu pihak memberikan jaminan terhadap utang/pekerjaan yang dimiliki orang lain.
Rukun Akad Kafalah
·       Kafil/Dhamin: Orang yang memberikan jaminan.
·       Makful Anhu: Orang yang dijamin.
·       Makful Lahu: Orang yang memberikan utang/pekerjaan kepada makful anhu.
·       Makful Bih: Utang/pekerjaan yang dijamin.
·       Shighat
Jenis-Jenis Akad Kafalah

·       Kafalah bin Nafs: Memberikan jaminan dengan dirinya/nama baik.
·       Kafalah bil Maal: Jaminan pembayaran barang/utang.
·       Kafalah bit Taslim: Jaminan pengembalian barang yang disewa.
·       Kafalah Al Munjazah (Performance Bonds): Jaminan terhadap sesuatu (misal pekerjaan/proyek) tanpa batas waktu.
·       Kafalah Al Muallaqah: Penyederhanaan dari kafalah al munjazah. Diatur dalam QS Yusuf: 72
Ø  Wadiah: Menitipkan barang kepada orang lain. Rukun Wadiah
·       Muwaddi: Orang yang menitipkan.
·       Mustawda: Orang yang dititipi.
·       Wadiah: Barang yang dititipkan.
·       Shighat Jenis-Jenis Wadiah
·       Wadiah Yad Amanah: Mustawda tidak boleh memakai barang yang dititipi.
·       Wadiah Yad Dhamanah: Mustawda boleh memakai barang yang dititipi. Diatur dalam QS Al Baqarah:283 dan QS An Nisa:58

§  Memberikan harta
Ø  Akad Hibah: Memberikan barang kepada orang lain. Rukun Akad Hibah
·       Wahib: Pemberi barang.
·       Mauhub Lah: Penerima barang.
·       Mauhub Bih: Barang yang diberikan.
·       Shighat

Ø  Wakaf: Menahan harta untuk dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat. Rukun Akad Wakaf
·       Waqif: Orang yang mewakafkan harta.
·       Nadzir: Pengelola harta wakaf.
·       Mauquf Alaih: Orang yang menikmati manfaat harta wakaf.
·       Mauquf Bih: Harta yang diwakafkan.
·       Shighat
Ø  Zakat: Kewajiban memberikan harta kepada orang lain apabila hartanya telah mencapai nisab dan memenuhi haul.
Rukun Zakat
·       Muzakki: Orang yang membayar zakat.
·       Mustahik: Orang yang menerima zakat.
·       Amil: Orang yang menerima pembayaran zakat dan menyalurkannya.

Akad Tijarah
§  Natural Uncertainty Contract
Ø  Mudharabah/Qiradh: Perjanjian usaha antara pemilik modal dengan pengusaha dimana pemilik modal memberikan modal usaha dan pengusaha menjalankan usaha dan keuntungan dibagi antara keduanya sedangkan kerugian bukan akibat kelalaian pengusaha ditanggung pemilik modal.
Rukun Mudharabah
·       Mudharib: Pengusaha.
·       Shahibul Mal: Pemilik Modal
·       Rasul Mal: Modal
·       Pekerjaan/Usaha
·       Shighat
Jenis-Jenis Mudharabah:
·       Mudharabah Mutlaqah: Shahibul Mal memberikan kebebasan kepada mudharib dalam berusaha.
·       Mudharabah Muqayyadah: Shahibul Mal memberikan batasan kepada mudharib dalam berusaha.
·       Mudharabah Musytarakah: Mudharib turut menanamkan modalnya pada usaha tersebut sehingga mudharib mendapat dua kali bagi hasil, yaitu sebagai mudharib sekaligus shahibul mal.
Diatur dalam QS Al Jumuah:10, QS Al Muzzammil:20, dan QS Al Baqarah:198
Ø  Musyarakah/Syirkah/Partnership/Persekutuan: Perjanjian usaha antara dua pihak atau lebih dimana masing-masing pihak sama-sama memberikan modal. Rukun Musyarakah
·       Musyarik: Orang yang berserikat.
·       Syarik: Porsi modal atau usaha
·       Shighat


Jenis-Jenis Syirkah
·       Syirkah Amlak: Syirkah tanpa perjanjian syirkah.
o   Syirkah Ikhtiyar: Syirkah berupa kepemilikan bersama karena bersama-sama membeli barang tersebut.
o   Syirkah Jabr: Syirkah berupa kepemilikan bersama karena menerima suatu harta yang bersama-sama ditujukan untuk mereka (menerima warisan).
·       Syirkah Uqud: Syirkah dengan perjanjian syirkah
o   Syirkah Inan: Syirkah dimana porsi modal dan keuntungan atau kerugian yang ditanggung besarnya berbeda antar orang yang berserikat.
o   Syirkah Mufawadhah: Syirkah dimana porsi modal dan keuntungan atau kerugian yang ditanggung besarnya sama antar orang yang berserikat.

o   Syirkah Wujuh: Syirkah dimana pihak yang berserikat membeli barang secara kredit dan menjualnya lagi secara tunai dengan mengandalkan nama baik pihak yang berserikat.
o   Syirkah Abdan/Badan: Syirkah dimana pihak yang berserikat bersama-sama mengerjakan suatu pekerjaan.
v  Musyarakah Mutanaqishah: Musyarakah dimana porsi modal atau kepemilikan dari seorang musyarik dibeli secara bertahap oleh musyarik lain hingga porsi modal atau kepemilikan musyarik tersebut habis terbeli sehingga usaha atau barang tersebut menjadi milik musyarik lain sepenuhnya.
Diatur dalam QS An Nisa: 12 dan QS Shad: 24.
Ø  Muzaraah dan Mukhabarah: Akad kerjasama antara pemilik tanah dengan penggarap tanah dimana penggarap tanah bertani di lahan pemilik tanah dan hasil panennya dibagi hasilkan antara pemilik tanah dengan penggarap tanah. Muzaraah: Bibit dari pemilik lahan.
Mukhabarah: Bibit dari penggarap lahan.
Ø  Musaqah: Akad kerjasama antara pemilik kebun dengan penggarap kebun dimana penggarap kebun merawat tanaman di perkebunan dan hasil panennya dibagi hasilkan antara pemilik kebun dengan penggarap kebun.

§  Natural Certainty Contract
Ø  Jual Beli (Al Bai): Pertukaran uang dengan barang. Diatur dalam QS Al Baqarah:275
Ø  Salam: Akad jual beli dimana pembeli menyerahkan uang terlebih dahulu lalu penjual mengirim barang beberapa waktu kemudian.
Rukun Salam
·       Muslam: Pembeli
·       Muslam Ilaih: Penjual
·       Muslam Bih: Barang
·       Rasul Mal
·       Shighat
Diatur dalam QS Al Baqarah: 282
Ø  Istishna: Akad jual beli dimana pembeli menyerahkan uang terlebih dahulu secara bertahap/berangsur-angsur lalu penjual menyerahkan barang beberapa waktu kemudian. (Jangka waktu lebih lama daripada salam).
Rukun Istishna
·       Mustashni: Pembeli
·       Shani: Penjual
·       Mashnu: Barang
·       Uang/Pembayaran
·       Shighat

Ø  Ijarah: Sewa barang/mempekerjakan seseorang (membeli manfaat dari suatu barang/suatu pekerjaan).
Rukun Ijarah
·       Mujir: Orang yang menyewakan/orang yang dipekerjakan
·       Mustajir: Orang yang menyewa/orang yang mempekerjakan
·       Maujur: Manfaat barang/pekerjaan.
·       Ujrah: Biaya sewa/upah.
·       Shighat
Diatur dalam QS Al Baqarah:233
o Ijarah Al Muntahiyya Bi At Tamlik (IMBT): Sewa barang dimana pada akhir masa sewa barang menjadi milik orang yang menyewa (barang dihibahkan atau dijual ke penyewa pada akhir akad).
Ø  Jualah: Janji memberikan hadiah/pembayaran kepada orang/pihak yang berhasil melakukan suatu pekerjaan/tugas (sayembara).
Rukun Jualah
·       Jail: Orang yang mengadakan sayembara.
·       Majul Lah: Orang yang melakukan tugas/mengikuti sayembara.
·       Majul: Tugas/Pekerjaan.
·       Jil/Natijah: Imbalan/hadiah.
·       Shighat
Ø  Ash Sharf: Jual beli/penukaran mata uang. TRANSAKSI TERLARANG DALAM FIQIH MUAMALAH Penyebab Transaksi Terlarang
1.         Haram karena zatnya (Haram li dzati): Haram karena obyek transaksi adalah barang haram (contoh daging babi, minuman keras).
2.         Haram karena selain zatnya/transaksinya (Haram ghairi li dzati): Haram karena di dalam transaksi tersebut terdapat praktik yang dilarang fiqih muamalah.
Praktik terlarang:
v  Riba (Bunga): Tambahan atas pinjaman atau barang ribawi. Jenis-Jenis Riba
Riba Jual Beli
·       Riba Fadhl: Riba yang muncul karena terdapat tambahan saat menukarkan suatu barang ribawi dengan barang ribawi yang sama jenisnya (barang ribawi: emas,perak, bahan makanan pokok (beras,gandum,jagung), dan bahan makanan tambahan (sayur-sayuran dan buah-buahan).
·       Riba Nasiah: Riba yang muncul karena adanya penangguhan penyerahan barang ribawi yang ditukarkan dengan barang ribawi sejenis sehingga karena penangguhan tersebut menimbulkan tambahan/perubahan.
Riba Utang-Piutang
o   Riba Qard: Tambahan yang dipersyaratkan di awal saat meminjam uang.
o   Riba Jahiliyah: Tambahan yang muncul karena orang yang berutang tidak mampu membayar tepat waktu.

v  Gharar/Taghrir: Ketidakpastian dalam transaksi karena informasi yang tidak lengkap.
v  Maysir/Perjudian: Suatu permainan dimana satu pihak diuntungkan dan pihak lainnya dirugikan.
v Tadlis/Penipuan: Satu pihak menyampaikan informasi yang salah untuk menipu/mencurangi pihak lain.
v  Ikhtikar/Penimbunan: Menjual barang lebih sedikit dengan harga lebih tinggi atau mengurangi supply sehingga harga barang lebih mahal (Monopoly rent seeking).
v  Bai Najasy: Membuat permintaan palsu dalam jumlah besar terhadap suatu barang sehingga harga barang tersebut menjadi naik.
v  Risywah: Suap
3.         Tidak sah (lengkap) akadnya.
ü Tidak terpenuhi rukun dan syarat (Akad Batil).
ü  Taalluq: Dalam satu transaksi ada dua akad yang saling dikaitkan sehingga jika satu akad tidak terlaksana maka akad lain tidak terlaksana dan transaksi batal. Contoh: Bai Al Inah.
ü  Shafqatain fi al Shafqah/Two in One: Dalam satu transaksi ada dua akad yang berlaku sehingga tidak jelas (gharar) akad apa yang berlaku dalam transaksi tersebut. Contoh: Lease Purchased (Menyewa sekaligus membeli barang yang disewa).
AL BAI (JUAL BELI)
Jenis-Jenis Al Bai yang diperbolehkan:
1.                   Bai Murabahah: Jual beli barang dimana penjual memberi tahu harga pokok barang dan margin/keuntungannya. 
2.                   Bai Musawamah: Jual beli barang dimana penjual tidak memberi tahu harga pokok barang dan margin/keuntungannya.
3.                   Bai Tauliyah: Jual beli barang secara impas/tanpa untung/BEP.
4.                   Bai Wadliyah: Jual beli barang secara rugi/lebih rendah daripada harga pokok.
5.                   Bai Muathah; Jual beli tanpa ijab qabul (di supermarket).
6.                   Bai Naqdan: Jual beli secara kontan.
7.                   Bai Urbun: Jual beli dengan DP.
8.                   Bai Bitsaman Ajil/Muajjal: Jual beli dengan pembayaran ditangguhkan.
9.                   Bai Taqsith: Jual beli dengan pembayaran secara dicicil.
10.           Bai Muyazadah: Jual beli dengan cara lelang.
11.           Bai Muzabanah: Jual beli dengan barter. Jenis-Jenis Bai yang dilarang:
1.         Bai Habal Habalah: Jual beli anak unta yang masih ada di dalam kandungan.
2.         Bai Abl Aqobl/Bai Madum: Menjual barang yang masih belum dimiliki.
3.         Bai Mulamatsah: Jual beli dengan sentuhan.
4.         Bai Hisbah: Jual beli dengan melempar barang yang dibeli.
5.         Bai Inah: Menjual barang kepada orang lain dengan syarat membeli kembali barang tersebut dengan harga lebih tinggi dari penjualannya. 
6.         Bai Hadir lil Bad: Membeli langsung hasil panen petani dimana petani tidak mengetahui harga pasar dari hasil panen tersebut sehingga sang pembeli bisa membeli hasil panen dengan harga lebih /sangat murah. 
7.         Talaqqi Ruqban: Mencegat petani yang hendak ke pasar menjual hasil panennya dimana petani tidak mengetahui harga pasar dari hasil panen tersebut sehingga sang pembeli bisa membeli hasil panen dengan harga lebih /sangat murah.
Khiyar: Hak pembeli dan penjual untuk meneruskan/membatalkan transaksi jual beli. Jenis-Jenis Khiyar
·       Khiyar Syarat: Persyaratan yang disepakati penjual dan pembeli dimana dalam waktu tertentu penjual dan pembeli boleh meneruskan atau membatalkan jual beli.
·       Khiyar Aib: Penjual dan pembeli boleh meneruskan atau membatalkan jual beli apabila diketahui barang yang dijual memiliki cacat.
·       Khiyar Majlis: Penjual dan pembeli boleh meneruskan atau membatalkan jual beli selama keduanya masih berada di tempat jual beli.
·       Khiyar Tayin: Penjual dan pembeli sepakat untuk menentukan barang yang dijual dalam waktu tertentu.
·       Khiyar Ru’yah: Pembeli boleh meneruskan/membatalkan jual beli setelah melihat barang yang dijual.

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
First
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar